24.5.10

Taj Mahal



Di terbitkan oleh HIKMAH.

Novel ini merupakan, karya Indu Sundares yang Pertama, namun sangat spetakuler, dibuat berdasarkan kisah nyata, dari masa kejayaan Kesultanan Mughal, di India.

Di ceritakan dalam detail yang indah.

Referensinya diperoleh, sebagian dari Buku sejarah kerajaan Islam di India, cerita legendaris, dan juga omongan turun-temurun, dari orang-orang disekitar Kesultanan pada waktu itu.

Rangkaian benang merah yang disusun rapi, oleh Indu Sundaresan ini, membuat novelnya terasa sedemikian nyata dan hidup.

Alkisah, diceritakan dalam gaya bertutur, bahwa Mahrunnisa adalah seorang gadis yang dilahirkan dari anak cucu seorang Wazir di Persia.

Karena keadaan politik setelah Kesultanan Persia, beralih tahta, maka sang wazir kehilangan kedudukannya, bahkan beberapa saat setelah itu seluruh keluarga sang wazir diperintahkan untuk dibunuh.

Ayah, Mahrunnisa, anak sang Wazir, berhasil menyelamatkan dirinya dan ketiga anaknya, untuk kemudian bersama-sama mengadu nasib menuju India, hendak memohon perlindungan dari Sultan Akbar, Sultan Mughal yang terkenal bijaksana.

Ditengah perjalanan mereka menumpang pada karvan-karvan gurun yang sederhana dengan berbekal seluruh sisa harta kekayaan sang Wazir.

Ditengah perjalanan, rombongan mereka mengalami musibah, di hadang oleh sekumpulan perampok, sehingga, mereka harus merelakan satu-persatu hartanya dirampas, bahkan Istri anak dari sang wazir nyaris diperkosa, andaikata tidak diketahui, bahwa dia telah mengandung anak-nya yang ke-empat, Mahrunnisa.

Singkatnya keluarga Anak sang Wazir diberkahi dengan kelahiran Mahrunnisa, yang nyaris dibuang karena sang Ibu tidak mampu menyusui, karena kekurangan makan, dan keadaan meraka yang sangat miskin, kehilangan statas kebangsawanan sebagai pelarian, membuat status mereka kini, praktis menjadi rakyat jelata.

Namun, karena keberuntungan atas kelahiran Mahrunnisa, inilah, akhirnya nasib membawa anak sang wazir, ayah Mahrunnisa, menjadi bendahara di salah satu Provinsi di Kesultanan Mughal, yang kemudian perlahan-lahan memperoleh promosi hingga menjadi Bendahara Istana.

Seiring dengan itu keadaan ekonomi keluarga Mahrunnisa semakin meningkat. Dari sinilah awal mula kedekataan Mahrunnissa dengan Ruqayyah, Permaisuri Sultan Mughal, Sultan Akbar.

Ruqayyah sudah menyukai Mahrunnisa mulai ia berumur 9 tahun, setelah itu dan sesudahnya, Mahrunnisa menjadi dayang kesayangannya.

Sedangkan Mahrunnisa mulai usai 9 tahun itu juga, sudah menyukai sosok pangeran nan tampan, sang putera mahkota, Saliem khan, yang kemudian setelah menjadi Sultan bergelar, Shah Jahan.

Mahrunnisa yang cantik jelita bermata biru, berkulit putih, lembut, harum, serta bertubuh indah, khas sensualitas wanita Persia, telah memikat hati sang pangeran.

Tidak hanya kecantikan fisiknya, karena pangeran saat itu sudah memiliki lebih dari 15 Istri, dan puluhan selir, tapi karena juga Mahrunisa, satu-satunya wanita yang cerdas dan berkarakter, yang membuat sang pangeran jatuh cinta.

Selama ini Pangeran Saliem menikahi Istri-istrinya karena politik, untuk mempersatukan dua kerajaan, atau memperkuat kedudukan kesultanan Mughal, saja, dan tidak pernah sekalipun sang pangeran jatuh cinta kecuali kepada Mahrunnisa.

Pengetahun dan wawasan akan kesultanan Mahrunnisa yang luas, ditunjang kecerdasan, dan keanggunannya, membuat Pangeran Salim dibuat mabuk kepayang, dan ingin sekali menyuntingnya.

Namun Malang, Mahrunnisa, sudah terlanjur di jodohkan oleh ayahnya atas perintah Sultan Akbar, kepada seorang prajurit yang pernah berjasa, di kesultanan Mughal, berdarah Persia seperti halnya Mahrunnisa, bernama Ali Qhuli.

Oleh karena Adat dan tradisi saat itu dimana Perempuan harus mau menerima pinangan yang dipilihkan sang ayah, yang dasarnya dari perintah Sultan Akbar, maka Mahrunnisapun menerima, sekalipun itu bertentangan dengan hatinya yang telah berpihak kepada Pangeran Saliem.

Pernikahan Mahrunnisa yang dipaksakan ini, berlangsung tidak bahagia, beberapa kali Ali Qhuli menyakiti hatinya, dengan beberapa kali perselingkuhannya bersama budak-budaknya, hingga yang terakhir diketahui sendiri oleh Mahrunnisa dengan mata kepalanya sendiri, disamping itu terdapat banyak perbedaan visi diantara keduanya, sekalipun Ali Qhuli sangat mengagumi kecantikan Mahrunnisa.

Pada jaman ini Perempuan bangsawan atau rakyat jelata, tidak diperbolehkan memperlihatkan wajahnya kepada selain muhrimnya, sehari-hari mereka mengenakan cadar, kecuali jika berada di harem sultan, dimana semua yang ada didalamnya adalah dibawah perlindungan sultan dan menjadi milik sultan.

Pernah suatu saat ketika Ali Qhuli membocorkan rahasia kecantikan Istrinya kepada Saliem sang pangeran, ketika sempat ditugaskan bersama-sama untuk menghentikan pemberontakan di salah satu wilayah kesultanan.

Padahal, sang sultan. telah terlebih dahulu mengetahui kecantikan Mahrunnisa lewat pertemuan tak terduganya di salah satu ruangan dalam harem sultan, di halaman, di kediaman Ratu Ruqayyah.

Kisah cinta nan romantis ini, diselingi pula oleh beberapa cerita tentang pemberontakan Pangeran Saliem, dan Khurasu, anak sulung pangeran Saliem.

Hingga terbunuhnya Ali Qhuli.

Ketika Pangeran Saliem, sudah bekedudukan sebagai Sultan, dan menghadiri pertunangan anaknya dari Istrinya Jagat Ghosni, bernama Kharem dengan Arjunmad, keponakan Mahrunnisa (kisah cinta keduanya kemudian diabadikan lewat pembuatan Taj Mahal nantinya).

Download Here

Related Articles :


Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook

0 comments:

Post a Comment

 

.

Protected by Copyscape Online Plagiarism Scanner

Gudang Ilmu online Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha